Jumat, 05 Desember 2025

Percakapan dengan Kayu dan Waktu: Refleksi tentang Menyimpan dan Melepaskan

Percakapan dengan Kayu dan Waktu: Refleksi tentang Menyimpan dan Melepaskan
Percakapan dengan Kayu dan Waktu: Refleksi tentang Menyimpan dan Melepaskan

Percakapan dengan Kayu dan Waktu: Refleksi tentang Menyimpan dan Melepaskan

Pernahkah Anda memegang sesuatu—kursi tua, meja warisan, perahu—lalu merasa ada sesuatu yang tersimpan di sana? Bukan hantu. Bukan mistis. Hanya... jejak. Saya baru saja membaca kembali cerita tentang seorang pembuat perahu bernama Matthias yang bisa "mendengar" ingatan di kayu, dan cerita itu membuatkan saya bertanya: apa bedanya antara mengingat dan tidak bisa melepaskan?

Pertanyaan ini mengikuti saya berhari-hari setelah membaca cerita tersebut. Seperti aroma yang tertinggal di baju setelah kita keluar dari ruangan berasap—tidak terlihat, tapi terus ada.

Tangan yang Tidak Bisa Berhenti Menyentuh

"Tangan ini sudah menyentuh lima ratus tiga puluh dua perahu. Aku ingat semuanya."

Kalimat pembuka cerita itu sebenarnya bukan tentang perahu. Ini tentang obsesi. Tentang bagaimana kita menghitung hal-hal yang tidak seharusnya dihitung—berapa kali kita membuka chat lama, berapa foto yang kita scroll, berapa kali kita melewati jalan yang sama berharap bertemu seseorang yang sudah tidak ada.

Matthias adalah pembuat perahu dengan kemampuan aneh: dia bisa merasakan ingatan yang tersimpan di kayu. Setiap perahu yang pernah disentuh manusia menyimpan jejak—getaran, berat tubuh, ketakutan, kebahagiaan. Kayu menjadi arsip emosional yang tidak bisa dihapus.

Saya terinspirasi konsep ini dari penelitian tentang bagaimana memori bekerja—bahwa ingatan kita tidak tersimpan di satu tempat di otak, tapi tersebar dalam jaringan neural yang teraktivasi setiap kali kita mengingat. Seperti kayu yang menyerap air, otak kita menyerap pengalaman. Dan seperti kayu yang memuai, ingatan kita berubah bentuk setiap kali disentuh.

Ketika Objek Menjadi Penanda Kehilangan

Di tengah cerita, ada perahu yang paling penting: perahu Anna.

Anna adalah istri Matthias yang meninggal tiga puluh lima tahun lalu. Sebelum mati, dia meminta satu hal: "Bakar perahunya. Aku tidak ingin jadi ingatan."

Tapi Matthias tidak membakar perahu itu. Dia menyimpannya di sudut bengkel, menutupinya dengan terpal, dan tidak pernah menyentuhnya lagi selama 35 tahun.

Saya membaca adegan ini dengan tangan gemetar. Karena saya tahu persis apa yang Matthias rasakan.

"Aku tidak membakar perahunya. Aku menaruhnya di sudut paling gelap bengkel, menutupinya dengan terpal, dan tidak pernah menyentuhnya lagi. Tiga puluh lima tahun. Perahu itu masih di sana. Aku melewatinya setiap hari—kadang tiga kali sehari—dan setiap kali aku melewatinya, tanganku gatal ingin menyentuh."

Ini adalah jenis penyimpanan yang paling menyakitkan: menyimpan sesuatu yang tidak berani kita hadapi.

Kita semua punya "perahu tertutup terpal" dalam hidup. Nomor telepon yang tidak kita hapus. Email yang tidak kita buka. Kotak di bawah tempat tidur berisi surat-surat lama. Kita menyimpannya bukan untuk menghormati kenangan—kita menyimpannya karena melepaskan terasa seperti pengkhianatan.

Perbedaan antara Menyimpan dan Terpenjara

Dalam tradisi Jepang, ada konsep mono no aware—kesadaran akan ketidakkekalan yang melahirkan keindahan dan kesedihan sekaligus. Penulis Banana Yoshimoto sering mengeksplorasi tema ini dalam novel-novelnya: bagaimana kita hidup dengan kehilangan tanpa membiarkan kehilangan itu mengubah kita menjadi museum.

Matthias akhirnya belajar perbedaan ini ketika dia memperbaiki perahu Elise—perahu milik kakak ipar Helena yang kabur dua puluh tahun lalu. Setelah memperbaikinya, Matthias melepaskan perahu itu ke sungai. Membiarkannya hanyut.

"Kau sudah cukup lama menyimpan. Sekarang waktunya pergi."

Ini bukan tentang melupakan. Ini tentang mengubah cara kita mengingat.

Psikolog menyebutnya "grief integration"—proses mengintegrasikan kehilangan ke dalam narasi hidup kita tanpa membiarkannya mendominasi. Kita tidak berhenti mencintai orang yang sudah pergi. Kita hanya belajar membawa cinta itu dengan cara yang tidak membuat kita berhenti bergerak.

Air yang Mengalir, Kayu yang Diam

Simbolisme dalam cerita ini sederhana tapi kuat:

  • Air = melupakan, mengalir, melepaskan, perubahan
  • Kayu = mengingat, menyimpan, kekal, statis

Hidup yang sehat adalah keseimbangan keduanya. Kita butuh air untuk bergerak maju. Kita butuh kayu untuk tidak kehilangan diri sendiri.

Penyair Ocean Vuong pernah menulis: "Memory is a choice." Kita tidak bisa memilih apa yang terjadi pada kita, tapi kita bisa memilih bagaimana kita menyimpannya. Apakah kita simpan sebagai luka yang terus berdarah, atau sebagai bekas luka yang mengingatkan kita bahwa kita pernah bertahan?

Tentang Tangan yang Tidak Gemetar Lagi

Momen paling penting dalam cerita ini bukan ketika Matthias melepas perahu Elise. Tapi momen ini:

"Dan ketika perahu itu hilang sepenuhnya, aku merasakan sesuatu yang aneh. Tanganku—tangan yang selalu ingin menyentuh, selalu ingin tahu—tiba-tiba diam. Tidak ada dorongan. Tidak ada gatal. Hanya... diam."

Ini adalah definisi saya tentang pelepasan sejati: ketika kita tidak lagi merasa terdorong untuk terus-menerus memeriksa, menyentuh, memastikan. Ketika keheningan tidak lagi terasa seperti ancaman.

Saya membaca Matthias masih belum siap menyentuh perahu Anna. Dan saya pikir itu tidak apa-apa. Beberapa kehilangan terlalu besar untuk diproses sekaligus. Beberapa perahu harus tetap tertutup terpal sampai kita cukup tua—atau cukup lelah—untuk tidak peduli lagi apa yang akan kita temukan.

Jonas dan Lingkaran yang Berulang

Di akhir cerita, datang Jonas—pria muda yang ingin belajar membuat perahu seperti ayahnya yang sudah meninggal. Kedatangannya adalah pengingat bahwa siklus ini akan terus berulang.

Setiap generasi akan memiliki "perahu Anna" mereka sendiri. Setiap orang akan belajar—dengan cara mereka sendiri, di waktu mereka sendiri—kapan harus menyimpan dan kapan harus melepaskan.

Mungkin ini adalah warisan sejati: bukan jawaban, tapi pertanyaan yang sama yang harus dijawab berulang kali.

Pertanyaan untuk Anda

Matthias bilang "suatu hari" dia akan siap menyentuh perahu Anna. Tapi kita tahu "suatu hari" sering berarti "tidak pernah." Dan mungkin itu bukan kelemahan. Mungkin itu adalah cara kita bertahan hidup dengan kehilangan yang terlalu besar untuk diproses sekaligus.

Jadi saya mau tanya:

Perahu apa yang Anda simpan di sudut bengkel Anda?

Dan apakah Anda akan menyentuhnya suatu hari—atau sudah cukup tahu bahwa dia ada di sana?


Catatan: Cerita lengkap "Air yang Mengingat" dapat dibaca di blog nine shadow forces. Jika Anda tertarik dengan tema memori, kehilangan, dan bagaimana objek menyimpan makna emosional, saya merekomendasikan membaca karya Haruki Murakami, Banana Yoshimoto, atau esai-esai Ocean Vuong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Fisika Berbicara Tentang Jiwa: Panduan Membaca Analisis Supernova Bagian 2

Ketika Fisika Berbicara Tentang Jiwa: Panduan Membaca Analisis Supernova Bagian 2 Companion ...