Rabu, 10 Desember 2025

Tentang Orang-Orang yang Selalu Ada dan Jarang Disebut

Tentang Orang-Orang yang Selalu Ada dan Jarang Disebut
Tentang Orang-Orang yang Selalu Ada dan Jarang Disebut

Tentang Orang-Orang yang Selalu Ada dan Jarang Disebut

Refleksi Personal atas Cerpen "Yang Selalu Ada"

Ketika Saya Sadar Siapa yang Benar-Benar Ada

Minggu lalu saya datang ke acara syukuran keluarga besar. Seperti biasa—meja panjang, makanan berlimpah, orang-orang berpakaian rapi. Dan seperti biasa pula, pembicaraan berputar di sekitar topik yang sama: siapa yang baru naik jabatan, siapa yang anaknya juara olimpiade, siapa yang baru beli mobil baru.

Saya duduk di ujung, mendengarkan sambil sesekali mengangguk. Lalu mata saya tertuju pada satu sosok di dapur—sepupu jauh yang sedang sibuk mencuci piring, mengisi ulang teko air, membersihkan meja. Dia sudah di sana sejak pagi. Tapi tidak ada yang bertanya kabarnya. Tidak ada yang menyebut namanya di meja panjang itu.

Dan ketika saya pulang malam itu, saya merasa ada yang mengganjal. Seperti ada pertanyaan yang tidak sempat saya tanyakan. Atau mungkin pertanyaan yang tidak berani saya tanyakan.

Dua hari kemudian, saya membaca cerpen "Yang Selalu Ada". Dan saya merasa seperti ditampar—dengan lembut, tapi cukup keras untuk membuat saya terbangun.


Tentang Meja Panjang dan Pertanyaan yang Mengganjal

Ketika Yang Paling Sibuk Justru Yang Paling Sunyi

Cerpen ini dimulai dengan deskripsi yang sangat familiar: meja panjang dengan taplak batik biru, kursi plastik warna-warni, dan orang-orang yang duduk di sana dengan cerita yang berganti-ganti. Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah—yang paling ramai dibicarakan bukan yang paling sering ada.

Raka, anak kecil berusia tujuh tahun dalam cerpen ini, menjadi saksi dari dinamika keluarga yang aneh tapi nyata. Om Wisnu yang baru naik jabatan jadi kepala cabang mendapat tepuk tangan meriah. Tante Diah yang anaknya juara olimpiade matematika jadi pusat perhatian. Pakde Arif yang beli mobil baru jadi bahan obrolan satu meja.

Tapi Bulek Tini? Dia yang dari pagi tuang air teh, cuci piring, beresin sampah, lap meja—dia tidak pernah jadi topik pembicaraan. Paling-paling cuma dapat "Makasih, Mbak Tin" sambil mata orang yang bilang itu masih menatap Om Wisnu yang lagi cerita soal rapat penting di kantor pusat.

"Tidak ada yang melihatnya. Atau lebih tepatnya: tidak ada yang berhenti bicara saat dia lewat."

Saya berhenti sejenak di bagian ini. Karena saya tahu persis rasanya—baik sebagai orang yang tidak dilihat, maupun sebagai orang yang tidak melihat.

Kenapa kita lebih mudah mengingat "Om Wisnu yang naik jabatan" daripada "Bulek Tini yang masak dari pagi"? Kenapa pencapaian lebih mudah jadi topik pembicaraan daripada pengorbanan?

Mungkin karena pencapaian itu terukur. Kepala cabang. Juara olimpiade. Mobil baru. Angka-angka dan bukti konkret yang mudah dikagumi. Sementara kehadiran... kehadiran itu abstrak. Tidak ada sertifikat untuk "sudah jagain orang sakit sampai pagi". Tidak ada trophy untuk "selalu ada saat dibutuhkan".

Dan kemudian ada frasa yang diulang berkali-kali sepanjang cerpen, setiap kali ada yang bertanya pada Bulek Tini:

"Nggak papa, Nak. Bulek biasa aja kok."

Biasa aja.

Dua kata ini menghantui saya sampai sekarang. Kenapa orang yang paling capek justru yang paling sering bilang "biasa aja"? Kenapa orang yang paling butuh diperhatikan justru yang paling tidak mau merepotkan?

Menurut penelitian tentang invisible labor yang dipublikasikan oleh American Psychological Association, ada pola konsisten di mana pekerjaan yang paling penting untuk kelancaran hidup sehari-hari justru yang paling jarang diakui. Karena pekerjaan ini dianggap "seharusnya" ada—seperti udara yang kita hirup tanpa berpikir.

Dan saya bertanya pada diri sendiri: Berapa kali saya jadi Om Wisnu yang datang sebentar lalu pergi? Berapa kali saya mengasumsikan seseorang "biasa aja" karena mereka tidak pernah mengeluh?


Ulang Tahun Raka dan Definisi "Baik"

Amplop Tebal vs Tangan yang Mencuci Piring Sampai Malam

Di bagian kedua cerpen, Raka berulang tahun yang ketujuh. Yang datang pertama kali pagi-pagi buta—jam enam pagi—adalah Bulek Tini dan Paklik Sentot. Mereka bawa kue tart buatan sendiri. Bentuknya tidak sempurna, tapi Bulek Tini senyum bangga.

Mereka pasang balon sejak pagi. Bantuin nyiapin makanan. Motong-motong kue. Atur konsumsi. Dan setelah acara selesai, mereka yang beresin meja, cuci piring, turunin balon, ikat plastik sampah.

Om Wisnu datang jam sebelas. Masih pakai kemeja kantor yang rapi. Bawa amplop tebal—Ibu Raka bilang "banyak banget". Om Wisnu peluk Raka sebentar, foto bareng, lalu duduk setengah jam sambil ngobrol sama orang dewasa. Kemudian dia pamit: "Maaf ya nggak bisa lama. Kerjaannya lagi numpuk banget."

Dan malam itu, sebelum tidur, Ibu Raka bilang pada anaknya: "Om Wisnu baik ya, kasih hadiah banyak."

Tapi Raka diam. Dia ingat wajah Om Wisnu yang cuma ada setengah jam. Lalu dia ingat Bulek Tini yang dari pagi sampai malam masih di rumah—bantu beresin, bantu cuci piring, bahkan bantuin Ibu mandiin adik bayi yang rewel.

"Raka nggak tahu mana yang lebih 'baik'. Tapi dia tahu mana yang lebih lama ada."

Bagian ini menusuk. Karena saya sadar: saya sering mengukur "kebaikan" dari seberapa besar hadiah, bukan dari seberapa lama kehadiran.

Saya ingat ketika Ibu saya sakit beberapa tahun lalu. Banyak kerabat yang kirim uang, kirim bunga, kirim pesan doa. Tapi yang duduk di kursi tunggu rumah sakit sampai pagi? Yang gantian jaga? Yang beliin bubur dan suapin sendok demi sendok?

Hanya dua orang. Dua orang yang namanya tidak pernah ramai disebut di acara keluarga. Dua orang yang kalau ditanya selalu bilang "biasa aja kok".

Dan saya—saya yang sibuk kerja, yang cuma sempat transfer uang dan datang sebentar—merasa seperti Om Wisnu. Saya merasa "sudah membantu" karena saya kirim uang. Tapi apakah itu cukup?

Cerpen ini tidak memberi jawaban. Dia hanya mengajukan pertanyaan: Apa bedanya "membantu" dengan "hadir"?

Dan saya belum tahu jawabannya.


Tengah Malam di Rumah Sakit—Ketika Krisis Datang

Siapa yang Duduk di Kursi Lipat Sampai Pagi

Tiga bulan setelah ulang tahun itu, Ibu Raka masuk rumah sakit. Tengah malam. Usus buntu. Harus operasi.

Bapak Raka panik. Dia telepon sana-sini, suaranya gemetar.

Jam dua dini hari, Bulek Tini dan Paklik Sentot datang. Nafas ngos-ngosan, rambut berantakan, tapi langsung peluk Raka yang takut sendirian. Mereka bawa tas besar—isi baju ganti buat Ibu, termos air hangat, roti buat Bapak yang belum makan dari sore.

Operasi berjalan sampai tengah malam. Raka duduk di kursi tunggu bareng Bulek Tini, yang bisik-bisik cerita lucu biar Raka tidak takut. Paklik Sentot jagain di luar, beli kopi buat Bapak, beli susu kotak buat Raka.

Pagi-pagi, grup WhatsApp keluarga rame:

Om Wisnu: "Wah, turut prihatin ya. Semoga cepat sembuh. Aku transfer buat bantu biaya."
Tante Diah: "Innalillahi, semoga diberi kesabaran ya. Nanti aku kirim makanan."
Pakde Arif: "Kalo butuh apa-apa kabarin ya. Aku lagi di luar kota tapi bisa bantu transfer."

Pesan-pesan baik. Doa-doa tulus. Uang yang ditransfer.

Tapi yang duduk di kursi lipat sampai pagi. Yang begadang sampai mata merah. Yang beliin bubur buat Ibu setelah operasi selesai.

Bulek Tini dan Paklik Sentot.

Saya berhenti membaca di sini. Menutup layar ponsel. Menatap langit-langit kamar.

Kapan terakhir kali saya benar-benar hadir saat orang lain krisis?

Saya ingat ketika teman dekat saya kehilangan orangtuanya. Saya kirim pesan panjang. Saya transfer uang. Saya bilang "kalau butuh apa-apa kabarin ya". Tapi saya tidak datang. Saya tidak duduk di sampingnya. Saya tidak diam-diam mendengarkan kalau dia ingin cerita—atau diam kalau dia tidak ingin bicara.

Saya pikir saya sudah "membantu". Tapi apakah teman saya merasa "terbantu"? Atau dia merasa sendirian di tengah banyak pesan baik yang tidak disertai kehadiran?

Penelitian dari Psychology Today tentang dukungan sosial menunjukkan bahwa dalam momen krisis, yang paling dibutuhkan manusia bukan solusi atau uang—tapi kehadiran fisik yang menenangkan. Seseorang yang duduk di samping kita tanpa harus bicara apa-apa.

Dan saya menyadari: kemudahan teknologi justru membuat kita lebih mudah menghindari kehadiran yang sesungguhnya. Transfer uang lebih mudah daripada naik kereta malam. Kirim pesan lebih cepat daripada duduk berjam-jam di rumah sakit. Tapi apakah itu yang benar-benar dibutuhkan?


Pakde Arif Kena Stroke—Tentang Buah Anggur dan Tangan yang Menyuapi

Lima Belas Menit dengan Keranjang Buah vs Sepuluh Hari dengan Sendok Bubur

Beberapa bulan kemudian dalam cerpen, Pakde Arif kena stroke. Setengah badannya lumpuh. Bicaranya pelo.

Grup WhatsApp meledak lagi. Pesan doa. Pesan "semoga cepat sembuh". Pesan "kalau butuh apa-apa kabarin".

Tapi yang datang ke rumah sakit setiap hari—Bulek Tini, Paklik Sentot, dan Ibu Raka. Mereka gantian jaga. Tidur di kursi lipat. Ganti sprei kasur. Lap badan Pakde dengan handuk hangat.

Raka ikut. Dia bosan, tapi dia lihat semuanya. Dia lihat Bulek Tini suapin Pakde Arif makan bubur—sendok demi sendok, pelan-pelan, sabar. Pakde makan susah, bubur sering tumpah. Bulek Tini lap dengan tisu, senyum: "Pelan-pelan ya, Pakde."

Sore itu, Om Wisnu datang.

Dia bawa buah—anggur mahal dalam keranjang bagus. Dia masuk dengan senyum, peluk istri Pakde Arif, ngobrol sebentar. Lima belas menit. Lalu dia lihat jam tangan: "Aduh, maaf ya aku nggak bisa lama-lama. Besok pagi rapat penting banget."

Dia pamit. Buah anggurnya ditaruh di meja—masih dalam plastik, belum dibuka.

Setelah Om Wisnu pergi, Bulek Tini yang kupas anggur itu, suapin Pakde Arif satu-satu.

Dan Raka bertanya pada Ibunya: "Bu, kenapa Om Wisnu nggak bisa lama-lama di sini?"

Ibu jawab: "Om Wisnu kan sibuk, Nak. Kerjaannya banyak."

"Kalau Bulek Tini nggak sibuk, berarti dia nggak penting?"

Pertanyaan anak kecil ini menohok saya lebih dalam dari apapun.

Bagaimana kita—sebagai masyarakat—mengukur "kesibukan" sebagai penanda nilai seseorang? Orang yang "sibuk" dianggap penting. Orang yang "nggak sibuk" dianggap... apa? Tidak produktif? Tidak berharga?

Dan "Maaf, aku sibuk" menjadi alasan yang selalu dapat diterima untuk tidak hadir. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang mempertanyakan. Karena "sibuk" itu mulia. "Sibuk" itu berarti Anda berkontribusi pada dunia.

Tapi ada paradoks yang menyakitkan di sini: yang paling "nggak sibuk" justru yang paling banyak melakukan. Bulek Tini yang katanya "nggak sibuk" adalah orang yang bangun jam lima pagi, masak untuk keluarga sendiri, lalu ke rumah Pakde Arif untuk jagain sampai malam. Pulang larut, besoknya bangun pagi lagi.

Sementara Om Wisnu yang "sibuk" datang lima belas menit, bawa buah yang bahkan tidak sempat dia kupas sendiri.

Dan yang lebih menyakitkan—saya tahu saya lebih sering jadi Om Wisnu.

Saya pernah bilang "Maaf, aku sibuk" pada orang tua yang minta dikunjungi. Pada teman yang butuh teman ngobrol. Pada keluarga yang butuh bantuan pindahan. Dan saya merasa itu justified—karena kan saya memang sibuk. Saya punya deadline. Saya punya meeting. Saya punya tanggung jawab.

Tapi apakah kesibukan saya lebih penting dari kehadiran saya bagi orang yang membutuhkan?

Cerpen ini tidak menjawab. Dia hanya mengajukan pertanyaan. Dan pertanyaan itu terus bergaung.


Malam di Tangga Darurat—Ketika Bulek Tini Menangis Sendirian

Orang yang Paling Capek Justru yang Paling Jarang Ditanya Kabarnya

Ada satu scene dalam cerpen ini yang membuat saya harus berhenti membaca dan menarik nafas panjang.

Malam itu, Raka tidak bisa tidur di kursi tunggu rumah sakit. Dia jalan-jalan kecil di koridor. Sepi. Dingin. Lampu neon putih.

Dia lihat Bulek Tini duduk sendiri di kursi panjang dekat tangga darurat. Dia pegang ponsel, tapi tidak di-scroll. Dia cuma pegang. Matanya merah.

Raka mendekat. Bulek Tini kaget, langsung lap mata cepat-cepat, senyum: "Raka belum tidur? Ayo masuk, dingin."

Tapi Raka tidak masuk. Dia duduk di sebelah Bulek Tini.

"Bulek nangis?"

Bulek Tini diam sebentar. Lalu dia angguk pelan. "Iya. Bulek capek, Nak."

"Bulek kenapa nggak cerita ke yang lain? Ke Om Wisnu atau Tante Diah?"
Bulek Tini senyum—senyum yang sedih. "Nggak papa, Nak. Bulek biasa aja kok."

Saya membaca bagian ini sambil menahan air mata.

Kenapa orang yang paling capek justru yang paling jarang ditanya kabarnya? Kenapa kita mengasumsikan bahwa orang yang "berfungsi" dengan baik—yang masih bisa masak, beresin rumah, jagain orang sakit—tidak perlu ditanya kabarnya?

Ada asumsi berbahaya yang kita semua pegang: kalau seseorang tidak mengeluh, berarti dia baik-baik saja.

Tapi kenyataannya? Seringkali orang yang paling "baik-baik saja" justru yang paling tidak baik-baik saja. Mereka hanya terlalu lelah untuk mengeluh. Atau terlalu terbiasa tidak didengar sehingga mereka berhenti bicara.

Saya ingat seorang teman yang selalu terlihat "oke". Dia selalu senyum. Selalu bilang "gue baik-baik aja kok" setiap kali ditanya. Sampai suatu hari dia breakdown dan masuk rumah sakit karena burnout parah.

Dan baru saat itu kami semua sadar: dia tidak pernah baik-baik saja. Dia hanya tidak pernah mengeluh. Dan kami tidak pernah bertanya lebih dalam.

Menurut penelitian tentang caregiver stress yang dipublikasikan di National Institutes of Health, orang-orang yang merawat orang lain—baik secara profesional maupun dalam keluarga—seringkali mengalami tingkat stres yang sangat tinggi. Tapi mereka jarang mencari bantuan karena merasa "ini kan tanggung jawab saya".

Dan masyarakat kita memperkuat pola ini dengan tidak pernah bertanya pada mereka: "Kamu capek nggak? Kamu butuh istirahat nggak? Kamu butuh bantuan nggak?"

Kita anggap mereka kuat. Kita anggap mereka ikhlas. Kita anggap mereka "biasa aja".

Padahal mungkin mereka sedang menangis sendirian di tangga darurat—dan kita tidak pernah tahu.


Mbah Kakung Meninggal—Pelayat yang Datang-Pergi seperti Ombak

Yang Mengatur Semuanya dan Yang Datang Sebentar

Tiga bulan kemudian, Mbah Kakung meninggal. Serangan jantung. Mendadak. Pagi-pagi, pas sholat Subuh, dia ambruk.

Rumah Mbah langsung penuh orang. Keluarga besar datang dari mana-mana. Tetangga, teman lama, kenalan jauh.

Yang mengatur semuanya dari awal: Bulek Tini.

Dia yang telepon ustaz buat ngurus jenazah. Dia yang atur konsumsi—pesan nasi kotak, siapa yang masak, siapa yang belanja. Dia yang terima tamu satu per satu—salam, peluk, bisik terimakasih.

Paklik Sentot bantu angkat keranda. Atur parkir mobil yang semrawut. Pandu orang-orang yang bingung mau duduk di mana.

Om Wisnu datang sore. Masih pakai kemeja kantor. Dia peluk Mbah Putri yang nangis, duduk sebentar, lalu berdiri lagi karena harus terima tamu penting—teman bisnis Mbah Kakung dulu.

Tante Diah datang pagi, tapi cuma dua jam: "Anakku ada les penting, Mbak. Ntar aku balik lagi ya." Dia tidak balik sampai sore.

Pakde Arif datang sebentar—masih lemah, duduk di kursi, diam. Setengah jam kemudian mereka pulang.

Pelayat datang-pergi seperti ombak. Peluk sebentar, ucap belasungkawa, lalu pergi.

Tapi Bulek Tini tidak pernah duduk. Dia terus bergerak. Nyiapin kopi. Beresin piring. Nemenin Mbah Putri yang nangis di kamar. Ganti taplak yang kotor. Sapu lantai yang becek karena hujan.

Dan malam harinya, setelah semua tamu pulang, Raka keluar ke teras belakang.

Dia lihat Bulek Tini duduk sendirian. Di tangannya ada foto Mbah Kakung—foto lama, hitam putih, Mbah masih muda, senyum lebar.

Bulek Tini menangis diam-diam. Bahunya bergetar.

"Dan Raka mulai mengerti: orang yang paling sedih, paling capek, paling butuh dipeluk—justru orang yang paling jarang ditanya kabarnya."

Saya menutup mata setelah membaca bagian ini.

Berapa kali saya mengira seseorang "kuat" karena dia tidak menangis di depan orang banyak? Berapa kali saya salah mengartikan keheningan sebagai "tidak butuh bantuan"?

Ada fenomena psikologis yang disebut "competence penalty"—ketika seseorang terlihat sangat mampu menangani segalanya, orang-orang di sekitarnya mengasumsikan dia tidak perlu bantuan. Semakin kompeten Anda terlihat, semakin sedikit orang yang menawarkan bantuan.

Bulek Tini terlihat kompeten. Dia mengatur semuanya dengan baik. Tidak ada yang berantakan. Semua berjalan lancar. Jadi tidak ada yang bertanya: "Mbak Tini capek nggak? Mbak Tini sedih nggak? Mbak Tini butuh istirahat nggak?"

Karena kan... dia terlihat "oke".

Tapi siapa yang mengecek orang yang terlihat "oke"? Siapa yang bertanya pada orang yang tidak pernah mengeluh?

Dan saya sadar: saya pernah jadi orang yang tidak bertanya. Saya pernah mengira seseorang kuat karena dia tidak menangis. Padahal mungkin dia menangis sendirian di teras belakang setelah semua orang pulang.


Reyhan Kecelakaan—Momen Om Wisnu Mulai Sadar

Ketika Om Wisnu Akhirnya Bilang "Aku Nggak Tahu Harus Gimana Kalau Nggak Ada Mbak"

Dua bulan kemudian, Reyhan—anak Om Wisnu—kecelakaan motor. Patah kaki. Harus operasi.

Om Wisnu lagi di luar kota—dinas kerja. Istrinya sendirian di rumah sakit, panik.

Dia telepon Bulek Tini.

Jam sembilan malam, Bulek Tini dan Paklik Sentot datang. Bulek Tini peluk istri Om Wisnu yang nangis, tenangkan dia, bantuin urus administrasi. Paklik Sentot bawa makanan, jagain di luar ruang operasi.

Operasi berjalan sampai tengah malam.

Om Wisnu baru datang pagi—naik kereta malam dari kota sebelah. Dia turun dari taksi dengan wajah kusut, tas ransel di punggung, mata merah.

Dia langsung peluk istrinya. Peluk Reyhan yang udah selesai operasi.

Lalu Om Wisnu lihat Bulek Tini—duduk di kursi tunggu, capek, rambut berantakan.

Om Wisnu jalan pelan ke arahnya. Dia berdiri di depan Bulek Tini. Diam sebentar.

"Makasih ya, Mbak Tini. Aku... aku nggak tahu harus gimana kalau nggak ada Mbak."

Bulek Tini senyum—kali ini senyum yang lebih tulus. "Nggak papa, Mas. Keluarga kan."

Om Wisnu angguk. Matanya berkaca-kaca. Dia peluk Bulek Tini sebentar—cepat, canggung, tapi tulus.

Raka melihat semuanya dari jauh. Dan dia lihat sesuatu di mata Om Wisnu. Seperti... rasa bersalah. Atau malu. Atau mungkin baru sadar.

Tapi cuma sebentar.

Karena besoknya, Om Wisnu sudah balik sibuk lagi. Kerja. Meeting. Laporan.

Saya membaca bagian ini dengan perasaan campur aduk.

Om Wisnu bukan villain dalam cerita ini. Dia bukan orang jahat. Dia hanya... terperangkap dalam sistem nilai yang salah. Sistem yang mengatakan bahwa kesuksesan karir lebih penting dari kehadiran. Bahwa memberi uang sama dengan memberi perhatian. Bahwa "sibuk" adalah pembenaran yang cukup untuk tidak hadir.

Dan kejujuran cerpen ini adalah: Om Wisnu tidak berubah setelah momen ini. Dia sadar sebentar, lalu kembali ke pola lama. Karena ya... begitulah realitasnya. Kesadaran tidak selalu menghasilkan perubahan.

Dan saya harus jujur pada diri sendiri: saya juga seperti Om Wisnu.

Berapa kali saya berjanji "lain kali aku akan lebih sering datang" setelah nyaris kehilangan seseorang? Berapa kali saya bilang "aku akan lebih perhatian" setelah melihat orang yang saya sayangi menangis?

Tapi kemudian kehidupan kembali berjalan. Deadline datang. Meeting bertambah. Dan janji itu... janji itu perlahan terlupakan.

Cerpen ini tidak menghakimi Om Wisnu. Dan saya berterima kasih untuk itu. Karena kalau cerpen ini menghakimi Om Wisnu, berarti cerpen ini juga menghakimi saya. Dan saya belum siap untuk itu.

Tapi setidaknya, cerpen ini membuat saya bertanya: Apakah kesadaran sejenak itu cukup? Atau saya akan kembali ke pola lama setelah krisis berlalu?


Pertanyaan Raka dan Pertanyaan Saya

Apakah Saya Akan Jadi Om Wisnu, atau Bulek Tini?

Setahun kemudian dalam cerpen. Acara syukuran lagi. Meja panjang lagi.

Raka sekarang sembilan tahun. Dia tidak main mobil-mobilan lagi. Dia duduk di kursi, mendengarkan.

Pembicaraan masih sama. Om Wisnu naik jabatan lagi—sekarang regional manager. Reyhan ranking satu di sekolah. Pakde Arif sudah bisa jalan lagi setelah fisioterapi yang mahal.

Semua orang heboh lagi. Tepuk tangan. Ketawa. Kagum.

Dan Bulek Tini masih di dapur. Paklik Sentot masih diam di pojok, bantu-bantu angkat barang.

Tapi Raka melihat sesuatu yang berbeda. Dia lihat Mbah Putri—yang sekarang tinggal sendirian—sesekali ngelirik ke arah dapur. Ke arah Bulek Tini. Tatapannya sulit dijelaskan.

Seperti... terimakasih. Atau mungkin penyesalan.

Dan malam itu, sambil lihat bintang, Raka bertanya pada dirinya sendiri:

"Suatu hari nanti, kalau dia besar—apakah dia akan jadi seperti Om Wisnu? Atau seperti Bulek Tini?

Kalau dia jadi seperti Om Wisnu, apakah dia akan bahagia?

Kalau dia jadi seperti Bulek Tini, apakah dia akan dihargai?"

Pertanyaan-pertanyaan ini menghantui saya berhari-hari setelah membaca cerpen.

Apakah keduanya harus saling eksklusif? Apakah kita harus memilih antara sukses atau hadir? Antara pencapaian atau pengorbanan?

Saya ingin percaya bahwa kita bisa jadi keduanya. Bahwa kita bisa sukses dalam karir dan hadir untuk keluarga. Bahwa kita bisa punya pencapaian yang ramai dibicarakan dan kehadiran yang diam-diam berarti.

Tapi cerpen ini tidak memberi jawaban mudah. Cerpen ini hanya mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman: Dalam dunia yang mengukur nilai manusia dari pencapaian eksternal, apakah masih ada ruang untuk menghargai kehadiran yang diam?

Dan yang lebih tidak nyaman lagi: Apakah saya sendiri menghargai kehadiran yang diam? Atau saya juga terjebak dalam pola mengagumi yang ramai dan mengabaikan yang sunyi?

Saya tidak tahu jawabannya. Saya masih bergulat dengan pertanyaan ini.

Tapi cerpen ini membuat saya mulai memperhatikan: Siapa yang saya sebut ketika bercerita? Siapa yang saya ingat? Siapa yang saya hubungi ketika ada kabar baik?

Dan lebih penting lagi: Siapa yang tidak pernah saya hubungi karena saya anggap mereka "biasa aja"?


Kenapa Cerpen Ini Bekerja—Mari Bicara Soal Craft

Bagaimana Sebuah Cerita Sederhana Bisa Begitu Menusuk

Sebelum kita tutup, saya ingin berbicara sebentar tentang bagaimana cerpen ini berhasil menyampaikan pesannya tanpa terasa menggurui atau manipulatif.

1. Perspektif Anak sebagai Pengamat

Keputusan untuk menggunakan Raka—anak berusia tujuh tahun—sebagai sudut pandang adalah keputusan yang brilian. Anak-anak melihat dunia dengan jujur, tanpa filter sosial yang kita dewasa sudah terlalu terbiasa pakai.

Raka tidak tahu istilah "emotional labor" atau "invisible caregivers". Tapi dia merasakan ketidakadilan. Dia tidak bisa mengartikulasikan kenapa ada yang salah dengan dinamika keluarganya, tapi dia tahu—di dalam hatinya—ada yang tidak adil.

Dan karena Raka tidak menghakimi, pembaca juga tidak merasa dihakimi. Kita hanya diajak untuk melihat.

2. Pengulangan Motif yang Menciptakan Ritme

Sepanjang cerpen, ada beberapa elemen yang diulang:

  • Meja panjang dengan taplak batik biru
  • Frasa "biasa aja kok"
  • Kontras antara yang datang sebentar vs yang ada sepanjang hari
  • Bulek Tini yang selalu di dapur atau di sudut

Pengulangan ini menciptakan ritme seperti puisi. Seperti mantra yang perlahan meresap ke dalam kesadaran kita. Kita tidak disadarkan dengan keras—kita disadarkan dengan lembut, berulang kali, sampai akhirnya kita tidak bisa lagi tidak melihat.

3. Kontras yang Tidak Dilebih-Lebihkan

Yang membuat cerpen ini powerful adalah: penulis tidak membuat Om Wisnu jadi villain yang kejam. Om Wisnu baik. Dia transfer uang. Dia datang saat bisa. Dia peduli.

Tapi kepeduliannya punya batas. Batas yang nyaman. Batas yang tidak mengganggu kehidupannya.

Dan itu... itu jauh lebih menyakitkan daripada kalau Om Wisnu digambarkan sebagai orang jahat. Karena kita semua bisa relate dengan Om Wisnu. Kita semua punya "batas yang nyaman" kita sendiri.

4. Detail yang Spesifik dan Sensorial

Taplak batik biru. Kursi plastik warna-warni. Air teh yang dituang dari teko. Bubur yang tumpah saat disuapi. Foto hitam-putih Mbah Kakung.

Detail-detail kecil ini membuat cerita terasa real. Ini bukan dongeng atau alegori abstrak. Ini kehidupan yang kita kenal. Rumah yang pernah kita datangi. Acara keluarga yang pernah kita hadiri.

Dan karena real, cerpen ini menusuk lebih dalam.


Yang Akan Saya Bawa Pulang

Seberapa Sering Tangan Saya Digenggam Saat Seseorang Butuh Pegangan

Di akhir cerpen, Raka membuat janji pada dirinya sendiri:

"Suatu hari nanti, kalau ada yang butuh bantuan—dia akan datang. Bukan cuma kirim pesan. Bukan cuma transfer uang. Tapi datang. Hadir."

Dan kemudian ada kalimat terakhir yang terus bergaung di kepala saya:

"Karena mungkin, yang paling berarti dalam hidup bukan seberapa sering namamu disebut di meja panjang. Tapi seberapa sering tanganmu digenggam saat seseorang butuh pegangan."

Saya tidak akan berbohong dan bilang bahwa setelah membaca cerpen ini saya langsung berubah jadi orang yang sempurna. Saya tidak akan janji bahwa mulai besok saya akan selalu hadir untuk semua orang.

Tapi yang saya bisa lakukan adalah ini:

Saya akan lebih memperhatikan. Memperhatikan siapa yang selalu ada tapi jarang disebut. Siapa yang diam tapi mungkin sedang menangis di dalam. Siapa yang bilang "biasa aja" tapi sebenarnya capek luar biasa.

Saya akan bertanya. Bertanya pada orang yang tidak pernah mengeluh: "Kamu capek nggak? Kamu butuh bantuan nggak?" Dan benar-benar mendengarkan jawabannya—bukan sekadar bertanya untuk formalitas.

Saya akan hadir—setidaknya sekali-sekali. Mungkin tidak bisa selalu. Mungkin tidak bisa setiap saat. Tapi sekali-sekali, saya akan memilih untuk datang, bukan hanya mengirim pesan. Untuk duduk di samping seseorang, bukan hanya transfer uang.

Dan yang paling penting: Saya akan berhenti mengukur nilai seseorang dari seberapa ramai mereka dibicarakan. Karena yang paling berarti seringkali adalah yang paling sunyi.


Pertanyaan untuk Anda

Sekarang giliran Anda yang saya tanya:

1. Siapa Bulek Tini dalam hidup Anda?
Siapa orang yang selalu ada tapi jarang Anda sebut? Yang selalu membantu tapi jarang Anda terima kasih dengan sungguh-sungguh?

2. Kapan terakhir kali Anda bertanya kabar mereka?
Bukan sekadar "Apa kabar?" di chat. Tapi benar-benar bertanya dan mendengarkan. Kapan terakhir kali?

3. Apakah Anda lebih sering menyebut nama yang sukses, atau nama yang selalu ada?
Coba ingat-ingat percakapan Anda minggu lalu. Siapa yang Anda ceritakan ke orang lain? Teman yang baru naik jabatan, atau teman yang jagain Anda waktu sakit?

4. Berapa kali Anda menggunakan "sibuk" sebagai alasan untuk tidak hadir?
Dan berapa kali "sibuk" itu benar-benar alasan yang tidak bisa dihindari, berapa kali itu sebenarnya pilihan?

Saya tidak akan menghakimi jawaban Anda. Karena saya sendiri masih bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan ini.

Tapi mungkin—hanya mungkin—dengan mulai bertanya, kita sudah melangkah ke arah yang benar.


Catatan Penutup

Cerpen "Yang Selalu Ada" adalah pengingat yang lembut tapi kuat tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup.

Ini bukan cerpen yang memberi jawaban. Ini cerpen yang memberi pertanyaan. Dan mungkin, pertanyaan yang baik jauh lebih berharga daripada jawaban yang mudah.

Karena jawaban membuat kita merasa puas dan berhenti berpikir. Tapi pertanyaan... pertanyaan membuat kita terus mencari. Terus memperhatikan. Terus berusaha menjadi lebih baik.

Dan di dunia yang terlalu fokus pada pencapaian dan kesuksesan yang ramai, mungkin yang kita butuhkan adalah lebih banyak orang yang memilih untuk hadir dengan diam.

Mungkin yang kita butuhkan adalah lebih banyak Bulek Tini.

Atau setidaknya, lebih banyak orang yang melihat dan menghargai Bulek Tini.

Karena pada akhirnya, yang paling berarti bukan seberapa sering nama kita disebut di meja panjang. Tapi seberapa sering tangan kita digenggam saat seseorang butuh pegangan.


Sudah baca cerpennya? Klik di sini untuk membaca "Yang Selalu Ada" secara lengkap.

Bagaimana pendapat Anda? Siapa Bulek Tini dalam hidup Anda? Mari berbagi di kolom komentar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Fisika Berbicara Tentang Jiwa: Panduan Membaca Analisis Supernova Bagian 2

Ketika Fisika Berbicara Tentang Jiwa: Panduan Membaca Analisis Supernova Bagian 2 Companion ...