Mie Ayam Pak Samsul
Sebuah analisa naratif dari cerpen Mie Ayam Pak Samsul.
Pernahkah Anda bangun tanpa alarm, tubuh Anda sudah tahu jam berapa sekarang?
I. Tubuh yang Mengingat
Jam lima pagi, Pak Samsul bangun. Tidak ada alarm. Dua puluh tujuh tahun sudah cukup untuk mengajari tubuhnya kapan harus membuka mata. Kamarnya gelap. Tangannya bergerak mencari saklar di dinding—gerakan otomatis, tidak perlu pikir, tidak perlu lihat. Tubuh sudah mengingat.
Air dingin menyentuh wajahnya. Sensasi itu—kejut kecil yang membangunkan setiap syaraf—adalah cara tubuhnya mengatakan: kamu masih hidup, hari baru dimulai. Di atas wastafel, cermin lama memantulkan wajahnya. Ada retakan di pojok kiri atas, retakan yang sama sejak sepuluh tahun lalu. Pak Samsul menatap wajahnya di cermin itu. Retaknya tidak mengubah apa yang dia lihat. Cermin masih berfungsi. Tidak perlu ganti.
Ada sesuatu tentang cermin retak itu—tentang bagaimana sesuatu yang imperfect tetap bisa memantulkan realitas dengan jujur.
Di dapur, tangannya bergerak dalam urutan yang sudah jadi bagian dari dirinya. Pisau terangkat. Daging ayam tersuwir dari tulang. Ada irama dalam gerakan ini—suwir, lepas, suwir, lepas—seperti napas. Dia tidak berpikir tentang apa yang tangannya lakukan. Tangannya sudah tahu. Otot mengingat lebih baik daripada pikiran. Dua puluh tujuh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk tubuh mempelajari sesuatu sampai gerakan itu bukan lagi gerakan, melainkan siapa dirinya.
Tujuh mangkuk bumbu tersusun di rak kayu. Bawang putih goreng, bawang merah goreng, kecap manis, kecap asin, minyak wijen, cabe rawit, merica bubuk. Pak Samsul periksa satu per satu. Bawang putih tinggal setengah toples—besok harus goreng lagi. Kecap manis masih penuh. Cabe rawit mulai kecoklatan di ujungnya. Dia pilah—yang busuk dibuang, yang baik disimpan.
Mungkin Anda bertanya: kenapa dia tidak beli bumbu jadi? Tapi ritual bukan tentang efisiensi. Ritual adalah cara mengatakan pada dunia: hari ini, seperti kemarin, seperti besok, aku masih di sini.
Pak Samsul menggoreng bawang putih. Aroma mengepul, mengisi dapur kecilnya. Aroma yang sama sejak tahun 1998. Aroma yang sudah jadi bagian dari dinding, bagian dari tubuhnya, bagian dari identitasnya yang tidak terlihat tapi tercium.
Pukul enam pagi, gerobak keluar dari gang. Roda besi menyentuh aspal yang masih basah embun. Suara derit itu—kriit... kriit... kriit—suara yang sama sejak dua puluh tujuh tahun lalu, sudah jadi bagian dari soundtrack hidupnya yang tidak pernah dia putar ulang, karena terus dimainkan setiap hari.
Pak Samsul dorong dengan tenang. Tidak terburu, tapi pasti. Tangan kanannya terasa ngilu. Rematik mulai datang dua tahun lalu. Tapi gerobak tetap harus keluar. Itu bukan kewajiban. Itu pilihan.
Jalanan masih sepi. Burung berkicau dari pohon yang dia tidak tahu namanya. Motor ojek lewat, suara knalpot memecah pagi yang tenang. Pak Samsul dorong mengikuti rute yang sudah dia hapal—seperti dia hapal garis-garis di telapak tangannya sendiri, seperti dia hapal ritme napasnya, seperti dia hapal bunyi derit gerobaknya di pagi hari.
II. Geografi Memori
Tempat-tempat tertentu menyimpan versi lama dari diri kita. Pak Samsul punya tempat seperti itu.
Pukul sembilan pagi, Pak Samsul sampai di Kampung Rawa. Gang sempit di mana rumah-rumah berdiri rapat seperti gigi yang tidak rata. Cat dinding mengelupas. Genteng bocor ditambal seng. Anak-anak main kelereng di depan warung, suara mereka—teriakan, tawa, tangisan—mengisi gang yang sempit itu seperti air mengisi celah.
Pak Samsul parkir gerobak di bawah pohon rambutan. Pohon itu sudah tinggi sekarang. Cabang-cabangnya sampai ke atap rumah. Dulu, tahun 1998, ketika dia pertama kali parkir gerobak di bawah pohon ini, cabang-cabangnya masih bisa dia raih dengan tangan. Gerobak masih baru waktu itu, cat merahnya masih mengkilat seperti harapan.
Sekarang cat itu mengelupas. Tapi gerobak masih kuat. Pohon tumbuh. Gerobak menua. Keduanya masih berdiri.
"Pak Samsul!" Ibu Siti keluar dari rumah, membawa mangkuk plastik hijau—mangkuk yang sama sejak dua puluh tahun lalu. Ada goresan di pinggirnya, tapi masih utuh. "Satu, Pak. Tanpa sawi, tambah cabe."
Pak Samsul angguk. Tangannya bergerak tanpa ragu: saringan terangkat, mie kuning tercelup ke air mendidih, uap naik dan membasahi tangannya yang sudah kebal pada panas ini. Tiga puluh detik. Angkat. Tiriskan. Air menetes kembali ke panci, bunyi tik-tik-tik yang teratur. Mie masuk mangkuk.
Suwiran ayam—dia ambil yang bagian dada. Dia tahu Ibu Siti suka yang lembut, meski Ibu Siti tidak pernah bilang. Bawang goreng. Kecap. Cabe lebih banyak dari biasa. Kuah panas dikucurkan, minyak mengambang di permukaan, membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang bergerak pelan.
"Sudah dua puluh tahun saya beli di Bapak," kata Ibu Siti sambil menerima mangkuknya. "Anak saya dulu masih kecil, sekarang udah kuliah di Jogja."
Pak Samsul tersenyum tipis. Dia ingat anak Ibu Siti—bocah kecil yang dulu suka ngintip dari balik pintu, takut-takut tapi penasaran. Sekarang sudah dewasa, sudah pergi ke kota lain untuk belajar. Beberapa hal tidak perlu diucapkan. Waktu sudah mengatakannya.
Ibu Siti bayar lima belas ribu. Uang kertas itu sudah lusuh, dilipat berkali-kali, menyimpan keringat tangan entah berapa orang. Pak Samsul masukkan ke kantong celananya, tunggu pembeli berikutnya.
Pembeli kedua datang. Pak Harto, pensiunan guru SD, jalan dengan tongkat, langkah pelan tapi pasti. Tongkatnya mengetuk aspal dengan irama yang tenang—tok... tok... tok. "Pak Samsul, satu ya. Biasa."
Biasa. Pak Samsul sudah tahu apa artinya kata itu untuk Pak Harto. Bukan resep tertulis. Bukan instruksi verbal. Biasa adalah bahasa yang terbentuk dari dua puluh tahun transaksi yang sama, sampai kata itu jadi kode untuk: sedikit mie, banyak kuah, tanpa cabe. Pak Harto giginya sudah tidak kuat kunyah mie terlalu banyak. Pak Samsul tidak pernah tanya, tapi dia tahu.
Dua puluh tahun cukup untuk tahu tanpa perlu bertanya. Keintiman kadang tidak berbentuk kata.
Pak Harto makan di pinggir gerobak, berdiri, mangkuk di tangan kiri, sendok di tangan kanan. Dia makan pelan, sesekali batuk kecil. Selesai, dia kembalikan mangkuk. "Makasih, Pak."
"Sama-sama, Pak."
Pak Harto jalan pelan, tongkat mengetuk aspal dengan irama yang sama. Pak Samsul cuci mangkuk di ember air. Sabun. Gosok. Bilas. Taruh kembali di rak. Gerakan yang sudah dia lakukan ribuan kali, mungkin puluhan ribu kali, sampai gerakan itu bukan lagi tugas tapi bagian dari napasnya.
Menunggu
Pukul sepuluh lewat. Gerobak masih di tempat yang sama. Hanya dua pembeli pagi ini. Pak Samsul duduk di kursi lipat kecil di sebelah gerobak. Dia tidak cemas. Sepi atau ramai, dia tetap di sini.
Anda mungkin berpikir ini kesepian. Tapi Pak Samsul tidak merasa sepi. Ada perbedaan antara alone dan lonely. Alone adalah kondisi. Lonely adalah perasaan. Pak Samsul alone, tapi tidak lonely.
Matanya mengikuti anak-anak yang main kelereng. Mereka teriak-teriak, ketawa, kadang bertengkar. Salah satu anak jatuh, lututnya lecet, nangis sebentar, lalu lanjut main lagi. Pak Samsul lihat itu semua tanpa berpikir apa-apa. Cuma lihat. Dunia terus bergerak, dan dia bagian dari gerakan itu—bukan karena dia harus, tapi karena dia ada.
Dia ingat anaknya dulu juga main kelereng di gang ini. Tahun 2000-an awal. Lututnya juga sering lecet. Istrinya suka marah, bilang Pak Samsul kurang awasi anaknya. Tapi Pak Samsul tahu anak laki-laki perlu lecet di lutut untuk belajar hati-hati. Sekarang anaknya sudah punya anak sendiri, sudah jadi ayah, mungkin sekarang ngerti kenapa Pak Samsul dulu membiarkan dia jatuh.
Kadang anaknya telpon, tanya kabar, nawarin uang. Pak Samsul selalu tolak. "Bapak masih bisa kerja. Kamu simpan untuk cucumu."
Langit mulai panas. Matahari naik, bayangan pohon rambutan mengecil. Pak Samsul lap keringat di dahinya dengan ujung kaos. Kaos putih yang sama sejak sepuluh tahun lalu. Ada noda kuning di bagian dada—noda kecap yang tidak pernah hilang meskipun sudah dicuci ratusan kali. Pak Samsul tidak pernah merasa perlu mengganti kaos ini. Masih bisa dipakai. Fungsi lebih penting dari penampilan.
Pukul sebelas, satu lagi pembeli. Ibu muda, membawa tas belanja penuh sayur. "Satu, Pak. Pedes."
Pak Samsul masak. Mie. Ayam. Bawang. Cabe banyak. Kuah. Ibu itu bayar, bawa pulang. Tidak ngomong banyak. Pak Samsul tidak tahu namanya. Mungkin baru pindah ke sini. Atau mungkin jarang beli. Tidak masalah. Dia terima siapa saja yang datang, seperti pohon rambutan menerima siapa saja yang berteduh di bawahnya.
III. Dunia yang Bergerak Tanpanya
Pukul dua belas siang, Pak Samsul dorong gerobak keluar dari gang sempit Kampung Rawa. Roda besi berderit, bunyi yang sudah familiar di telinganya seperti suara napasnya sendiri. Dia menuju komplek dekat Green Pramuka Square—gedung-gedung tinggi dengan kaca yang memantulkan matahari, trotoar rapi, pohon palm di median jalan yang terlihat seperti dipinjam dari kota lain.
Tahun 2005, tempat ini masih tanah kosong. Pak Samsul ingat—dia sering lewat sini saat itu, lihat truk-truk proyek hilir mudik, debu beterbangan, bau tanah basah setelah hujan. Tahun 2010, apartemen pertama selesai. Gedung beton dan kaca menjulang seperti tumbuh dari tanah semalam. Tahun 2015, komplek ini sudah ramai. Kafe-kafe buka, minimarket buka, restoran waralaba buka.
Pak Samsul jarang dapat pembeli banyak di sini. Orang-orang di komplek ini lebih suka pesan lewat aplikasi. Lebih cepat. Lebih praktis. Mie datang dalam kotak styrofoam, dibawa motor dengan jaket hijau atau merah, tidak perlu keluar rumah, tidak perlu sentuh uang, tidak perlu lihat wajah orang yang masak.
Pak Samsul tidak menyalahkan mereka. Zaman berubah. Cara orang makan berubah. Itu bukan hal yang bisa dia kontrol. Yang bisa dia kontrol: kualitas mie-nya, jam keluarnya, senyumnya yang tipis tapi tulus. Itu saja.
Dia parkir gerobak di pinggir jalan, di bawah pohon trembesi muda yang batangnya belum cukup besar untuk memberi bayangan luas. Duduk. Tunggu. Mobil-mobil lewat, kilat cahaya kaca mobil menyilaukan mata. Orang-orang jalan cepat di trotoar, mata fokus ke depan, tangan pegang HP, jari bergerak di layar, dunia mereka ada di genggaman, bukan di sekitar mereka.
Pak Samsul tidak merasa diabaikan. Dia cuma duduk, lihat dunia bergerak. Ada kedamaian dalam hal ini—duduk, tunggu, tidak mengharapkan apa-apa. Ekspektasi adalah akar kekecewaan. Pak Samsul belajar itu dua puluh tujuh tahun lalu.
Anak SMP dan Layar
Pukul satu siang, satu pembeli datang. Anak SMP, seragam putih biru, tas ransel besar di punggung. "Om, satu. Biasa aja."
Pak Samsul masak. Anak itu main HP sambil tunggu, jempol bergerak cepat di layar, matanya tidak pernah terangkat. Wajahnya diterangi cahaya biru dari layar, ekspresinya kosong tapi fokus—fokus pada dunia yang tidak ada di sini.
Selesai, Pak Samsul taruh mangkuk di atas gerobak. Anak itu ambil mangkuk, makan cepat, mata masih di layar HP. Suara kunyahannya terdengar mekanis. Selesai, dia kembalikan mangkuk, bayar, pergi. Tidak ada kontak mata. Tidak ada terima kasih. Cuma transaksi—uang bertukar dengan makanan, lalu pergi.
Pak Samsul cuci mangkuk. Dia tidak ambil hati. Dua puluh tujuh tahun sudah cukup untuk mengajarinya bahwa tidak semua orang akan bilang terima kasih. Dan tidak apa-apa. Dia tidak jualan untuk dengar ucapan terima kasih. Dia jualan karena ini caranya ada di dunia.
Dia ingat tahun 2010, ada anak SMP yang komplain: "Om, kok kurang asin sih?"
Pak Samsul waktu itu cuma bilang: "Mau ditambahin kecap?"
"Kan harusnya dari awal udah pas!"
Anak itu mukanya merah, kesal karena hal kecil yang mungkin bukan tentang mie, tapi tentang hari buruknya, tentang nilai jelek di sekolah, tentang pertengkaran dengan temannya—hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan garam tapi membutuhkan sesuatu untuk disalahkan.
Pak Samsul tidak bilang apa-apa. Dia tambahin kecap, kasih tissue. Anak itu makan, pergi. Pak Samsul tidak ingat wajah anak itu sekarang. Dia tidak pernah simpan dendam untuk hal-hal kecil seperti itu.
Dendam itu berat. Gerobak sudah cukup berat untuk didorong tanpa perlu bawa beban lain.
IV. Harga dan Nilai
Pukul tiga sore, Pak Samsul pindah ke Jalan Pramuka. Jalan ramai—motor, mobil, bus, semuanya bergerak dalam kekacauan yang entah bagaimana tetap teratur. Asap knalpot tebal, bau bensin bercampur debu. Suara klakson bersahutan seperti orkestra yang tidak pernah latihan tapi entah kenapa tetap harmonis dalam kekacauannya.
Pak Samsul parkir gerobak di pinggir trotoar, dekat halte bus. Anak-anak sekolah mulai keluar. Seragam SMP, SMA, bercampur dalam kerumunan yang ramai. Mereka ngobrol, ketawa, main HP, makan jajanan dari pedagang lain yang juga parkir di pinggir jalan.
Beberapa anak lihat gerobak Pak Samsul. Mereka mendekat.
"Berapa, Pak?"
"Lima belas ribu."
"Mahal amat. Yang di depan sekolah dua belas ribu."
Pak Samsul tidak bilang apa-apa. Dia cuma tunggu. Anak-anak itu ngobrol lagi, timbang-timbang, akhirnya pergi ke gerobak lain yang lebih murah. Pak Samsul tidak kecewa. Dia tidak bersaing soal harga. Dia bersaing soal konsistensi. Dua puluh tujuh tahun, rasa mie-nya tidak berubah. Itu yang dia tawarkan. Bukan diskon. Bukan promo. Cuma konsistensi.
Kalau orang mau yang lebih murah, silakan. Pak Samsul tidak akan marah. Setiap orang punya prioritas masing-masing. Beberapa orang pilih harga. Beberapa orang pilih rasa. Beberapa orang pilih familiaritas. Tidak ada yang salah.
Tapi ada satu anak perempuan yang datang. Rambut dikuncir, kacamata tebal. "Saya beli satu, Pak."
Pak Samsul masak. Anak itu tunggu, tidak main HP. Dia berdiri di samping gerobak, lihat Pak Samsul masak—lihat cara dia celup mie, hitung dalam hati (satu, dua, tiga... tiga puluh), angkat, tiriskan dengan gerakan tertentu supaya air tidak terlalu banyak menetes, tata di mangkuk, ambil suwiran ayam yang pas ukurannya, taburkan bawang goreng dengan jumlah yang tidak terlalu banyak tidak terlalu sedikit, tuang kuah dengan gerakan yang ekonomis, tidak ada yang terbuang.
Selesai, Pak Samsul kasih mangkuk. Anak itu terima dengan dua tangan, bayar, makan di pinggir gerobak. Dia makan pelan, merasakan setiap suapan.
"Enak, Pak," katanya setelah selesai. Bukan pujian kosong. Ada ketulusan dalam nada suaranya.
Pak Samsul tersenyum tipis. "Terima kasih."
Anak itu kembalikan mangkuk, pergi. Pak Samsul cuci mangkuk, lap tangannya di kain lap yang sudah kusam, sudah penuh noda minyak yang tidak akan pernah hilang meskipun dicuci ratusan kali. Kain itu seperti gerobaknya, seperti kaosnya, seperti tangannya—penuh bekas, tapi masih berfungsi.
1998
Dia ingat tahun 1998. Pertama kali dia jualan mie keliling.
Krisis moneter. Harga-harga naik seperti air banjir yang tidak bisa dibendung. Warung mie yang dia punya di Cempaka Putih terpaksa dijual. Utang menumpuk. Istri dia sakit, tiduran di rumah, butuh obat mahal yang harganya naik setiap minggu. Tabungan habis. Yang tersisa cuma cukup untuk beli gerobak bekas—gerobak kayu dengan cat merah yang masih mengkilat, roda besi yang masih mulus, kompor yang masih berfungsi baik.
Hari pertama itu, tangannya gemetar saat dorong gerobak keluar dari gang. Dia tidak tahu apakah ada yang akan beli. Dia tidak pernah jualan keliling sebelumnya. Dia biasa punya warung, biasa tunggu pembeli datang, bukan dia yang datang ke pembeli.
Dia dorong gerobak ke Pramuka, ke gang-gang kecil, teriak: "Mie ayam! Mie ayam!" Suaranya serak karena tidak biasa teriak. Beberapa orang lihat, tapi tidak berhenti. Dia terus dorong, terus teriak, sampai tenggorokannya sakit.
Hari pertama itu, hanya tiga orang beli. Untung total sembilan ribu rupiah. Tidak cukup buat obat istri. Tidak cukup buat makan malam yang layak. Pak Samsul pulang dengan hati berat, dengan pertanyaan: apakah dia salah pilih jalan?
Tapi besok, dia keluar lagi. Dapat lima pembeli. Lusa, tujuh. Pelan-pelan, orang mulai kenal gerobaknya. Pelan-pelan, langganan mulai terbentuk. Pak Samsul tidak menyerah, bukan karena dia kuat, tapi karena dia tidak punya pilihan lain kecuali terus bergerak.
Dan sekarang, dua puluh tujuh tahun kemudian, dia tidak perlu teriak lagi. Langganan lama sudah hapal rute dia. Tapi jumlah pembeli tidak sebanyak dulu. Tahun 2000-an awal, dia bisa dapat tiga puluh, empat puluh pembeli sehari. Sekarang kadang cuma sepuluh, dua belas. Dunia berubah. Cara orang makan berubah. Pak Samsul tidak bisa mengubah itu.
Yang bisa dia ubah: rasanya tetap sama, jam keluarnya tetap sama, senyumnya tetap ada.
V. Menutup Lingkaran
Pukul lima sore, langit jingga. Matahari di ujung barat, di balik gedung-gedung tinggi yang berdiri seperti penjaga kota. Bayangan gerobak panjang di aspal, bergerak mengikuti Pak Samsul yang dorong pelan. Tangan kanannya masih ngilu—rematik yang datang seperti tamu tidak diundang tapi sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Rasa sakit adalah pengingat bahwa dia masih hidup, masih bergerak, masih ada.
Hari ini, total dua belas pembeli. Untung tiga puluh ribu, setelah dikurangi modal. Cukup untuk makan malam, sisanya disimpan. Besok, dia keluar lagi. Rute yang sama. Mungkin pembeli yang sama. Mungkin berbeda. Tidak masalah. Yang penting dia keluar.
Pernahkah Anda merasa dunia bergerak terlalu cepat, dan Anda berjalan dengan kecepatan lama? Pak Samsul merasakan itu setiap hari. Tapi dia tidak mempercepat langkahnya. Dia memilih kecepatannya sendiri. Itu adalah bentuk perlawanan yang sunyi.
Pak Samsul lewat Jalan Letjend Suprapto, belok kanan ke Cempaka Putih Timur, masuk gang sempit yang becek setelah hujan tadi siang, sampai di rumah kontrakan. Pukul enam sore tepat. Dia parkir gerobak di depan rumah. Masuk. Ganti baju. Minum air putih dari gelas plastik yang sudah buram. Duduk sebentar di kursi plastik, rasakan kaki yang pegal pelan-pelan mereda, rasakan napas yang pelan-pelan teratur.
Ritual Pembersihan
Pukul tujuh malam, dia mulai bersih-bersih gerobak. Ini bukan kewajiban. Ini adalah ritual. Cara dia menutup hari, cara dia mempersiapkan besok, cara dia mengatakan terima kasih pada gerobak yang sudah membawanya melewati dua puluh tujuh tahun.
Dia angkat kompor, lap permukaan gerobak dengan kain basah. Gosok sisa minyak yang lengket—minyak hari ini yang nanti akan jadi lapisan di atas minyak kemarin, lapisan di atas lapisan, seperti sedimen waktu. Cuci mangkuk-mangkuk yang belum dicuci—air sabun, spons, gerakan memutar yang sudah otomatis. Cuci saringan, lap pisau, lap meja. Setiap gerakan dia lakukan dengan perhatian penuh. Tidak terburu. Tidak asal-asalan.
Ada meditasi dalam pembersihan. Ada ketenangan dalam gerakan repetitif. Pak Samsul tidak terburu-buru. Waktu untuk bersih-bersih gerobak adalah waktu untuk dirinya sendiri, waktu di mana tangannya bekerja dan pikirannya kosong.
Selesai bersih-bersih, dia cek bumbu untuk besok. Bawang putih masih cukup. Kecap masih ada. Cabe rawit tinggal sedikit—besok harus beli di pasar pagi. Ayam tinggal untuk satu hari lagi—besok sore harus rebus lagi. Dia buat catatan mental, tidak perlu tulis. Otaknya sudah hapal apa yang harus dilakukan, seperti hapal jalan pulang, seperti hapal wajah langganan lamanya.
Pukul sembilan malam, selesai. Gerobak bersih. Peralatan tersusun rapi. Setiap mangkuk di tempatnya. Setiap pisau sudah dilap. Setiap bumbu sudah dicek. Pak Samsul duduk di teras rumah, minum teh manis dari gelas kaca yang sudah banyak goresannya. Teh hangat turun ke kerongkongan, hangatkan dada dari dalam, seperti peluk dari orang yang sudah lama tidak ketemu.
Melihat Gerobak
Dia lihat gerobak yang terparkir rapi di depan rumah. Cat merah sudah mengelupas di banyak tempat, kayu terlihat di bawahnya—kayu tua yang mulai kusam. Kayu sudah tidak mulus. Roda sudah aus, tapaknya sudah rata. Tapi masih kuat. Masih bisa jalan. Masih bisa bawa dia keliling setiap hari.
Pak Samsul lihat gerobak itu seperti dia lihat tangannya sendiri—penuh luka kecil, penuh bekas, penuh tanda waktu yang berlalu. Tapi masih berfungsi. Masih bisa pegang pisau. Masih bisa suwir ayam. Masih bisa dorong gerobak.
Dua puluh tujuh tahun.
Dia tidak tahu apakah itu lama atau sebentar. Waktu kadang terasa cepat—seperti kemarin baru mulai, sekarang sudah dua puluh tujuh tahun. Waktu kadang terasa lambat—setiap hari dorong gerobak, setiap hari tunggu pembeli, setiap hari pulang dengan pegal di kaki.
Tapi Pak Samsul tidak mengukur hidupnya dengan tahun. Dia mengukurnya dengan hari. Setiap hari dia bangun, setiap hari dia keluar, setiap hari dia pulang. Akumulasi hari-hari itu jadi dua puluh tujuh tahun. Tapi bagi Pak Samsul, hidupnya bukan dua puluh tujuh tahun. Hidupnya adalah hari ini. Kemarin sudah lewat. Besok belum datang. Yang ada cuma hari ini.
Suara cicak di dinding. Suara motor lewat di gang. Suara TV tetangga yang nyala keras, sinetron dengan tawa palsu dan musik dramatis. Pak Samsul dengerin semuanya tanpa fokus ke apa-apa. Cuma duduk, minum teh, hadir di momen ini—bukan menyesali kemarin, bukan khawatir tentang besok, cuma ada di sini, di kursi plastik ini, dengan gelas teh yang masih hangat di tangan.
Pertanyaan Anaknya
Dia ingat pertanyaan yang pernah ditanya anaknya beberapa tahun lalu. Anaknya pulang kampung, bawa cucu, duduk di teras yang sama ini. Cucu main di gang, anaknya duduk di sebelah Pak Samsul, lihat gerobak yang terparkir.
"Pak, nggak bosen? Dua puluh tahun lebih jualan keliling terus? Gitu-gitu aja?"
Pak Samsul waktu itu diam lama sebelum jawab. Dia minum teh dulu, lihat cucunya yang main kelereng di gang—gerakan yang sama seperti anaknya dulu, seperti anak-anak di Kampung Rawa sekarang, gerakan yang tidak berubah meski generasi berganti.
"Bosen kenapa?" kata Pak Samsul akhirnya. "Ini yang Bapak pilih."
Anaknya tidak ngerti waktu itu. Mukanya bingung. "Maksud Bapak?"
"Bapak bisa berhenti kalau Bapak mau. Bapak bisa cari kerjaan lain. Bapak bisa terima uang dari kamu. Tapi Bapak pilih tetap keluar setiap hari. Karena ini cara Bapak ada di dunia."
Anaknya masih belum ngerti. Mungkin sekarang juga belum ngerti. Tapi Pak Samsul ngerti. Dia tidak jualan karena tidak punya pilihan lain. Dia jualan karena ini adalah pilihannya. Ini adalah cara dia ada di dunia. Gerobak adalah cara dia bergerak. Mie ayam adalah cara dia memberi. Rute harian adalah cara dia membuat jejak—jejak yang tidak terlihat, tidak tercatat, tapi ada.
Tidak spektakuler. Tidak heroik. Cuma penjual mie ayam keliling. Tapi itu cukup—bukan karena dia menyerah pada takdir, tapi karena dia memilih takdir ini dengan sadar. Ada kebebasan dalam pilihan itu. Kebebasan yang tidak banyak orang lihat, karena mereka hanya lihat gerobak tua dan penjual mie tua, tidak lihat pilihan yang dibuat setiap hari untuk terus ada.
Pak Samsul habiskan teh-nya. Taruh gelas di lantai teras. Lihat langit malam yang mulai gelap, bintang-bintang mulai muncul satu per satu di atas atap-atap rendah Cempaka Putih. Bulan sabit tipis, cahayanya redup, tidak cukup untuk menerangi tapi cukup untuk mengingatkan bahwa dia ada.
VI. Bunyi yang Ditunggu
Pukul sepuluh malam, Pak Samsul masuk rumah. Matiin lampu. Tiduran di kasur tipis yang sudah melesak di tengah—bekas tubuhnya tidur di posisi yang sama setiap malam selama bertahun-tahun. Napasnya pelan, teratur. Dia tidak langsung tidur. Dia lihat langit-langit kamar yang gelap, dengar suara malam—cicak, motor jauh, anjing menggonggong, dunia yang tidak pernah benar-benar diam.
Tidak lama, dia tidur. Tidur orang yang sudah melakukan apa yang perlu dia lakukan hari ini, dan akan melakukan lagi besok. Tidur tanpa mimpi, atau dengan mimpi yang tidak dia ingat saat bangun. Tidur yang dalam, bukan karena capek fisik saja, tapi karena ketenangan batin—batin orang yang tahu dia sudah berada di tempat yang tepat, meskipun tempat itu cuma gerobak kayu tua di pinggir jalan.
Gerobak terparkir di luar, menunggu pagi. Seperti biasa.
Besok, jam lima pagi, Pak Samsul akan bangun lagi.
Mungkin Anda juga akan bangun untuk hal yang sudah Anda lakukan ribuan kali. Bangun, mandi, sarapan, berangkat kerja, pulang, tidur—siklus yang sama, hari yang sama, atau setidaknya terasa sama.
Mungkin Anda akan bertanya—seperti anak Pak Samsul bertanya dulu—kenapa terus melakukan hal yang sama? Kenapa tidak berhenti? Kenapa tidak cari yang baru?
Tapi mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan "kenapa terus?", melainkan "kenapa tidak?"
Ada sesuatu tentang konsistensi—tentang bangun di jam yang sama, melakukan ritual yang sama, berjalan di rute yang sama. Bukan karena kita robot. Bukan karena kita tidak punya pilihan. Tapi karena dalam pengulangan itu, ada makna. Dalam rutinitas itu, ada identitas. Dalam konsistensi itu, ada kita.
Di suatu tempat di jalanan Cempaka Putih, seseorang akan menunggu bunyi gerobak itu—mungkin tanpa sadar, mungkin tanpa tahu kenapa bunyi itu penting. Ibu Siti yang sudah terbiasa sarapan mie ayam Pak Samsul sejak dua puluh tahun lalu. Pak Harto yang sudah terlalu tua untuk masak sendiri. Anak perempuan berkacamata yang menghargai konsistensi rasa.
Bunyi gerobak itu adalah bukti bahwa ada seseorang yang memilih untuk keluar setiap hari. Memilih untuk ada. Memilih untuk terus bergerak meskipun dunia berubah di sekelilingnya. Memilih untuk tetap jadi dirinya—bukan versi yang lebih keren, bukan versi yang lebih sukses, cuma dirinya, apa adanya, dengan gerobak tua dan mie ayam yang rasanya tidak pernah berubah.
Bukan karena harus.
Karena mau.
Dan besok pagi, jam lima, bunyi itu akan terdengar lagi. Bunyi roda besi menyentuh aspal. Bunyi derit yang sama sejak dua puluh tujuh tahun lalu. Bunyi yang mengatakan: aku masih di sini. Aku masih bergerak. Aku masih ada.
Seperti biasa.
Analisa Naratif sebuah Cerpen Mie Ayam Pak Samsul. Cempaka Putih, Jakarta Pusat
November 2025




