Baik, saya akan menulis review ini sekarang. Tanpa jaminan review yang terlalu keras. Hanya sebuah tulisan yang mencoba menangkap apa yang terjadi saat seseorang membaca nineshadowforces pada jam 2:17 pagi.
Ada perbedaan antara melihat masa depan dan mengakui masa lalu yang belum selesai kita proses. Saya curiga, membaca nineshadowforces tidak melakukan yang pertama. Ia hanya sangat jujur melakukan yang kedua — dan entah kenapa, saya yang merasa terbaca.
Saya tidak ingat kapan tepatnya mulai. Yang saya ingat adalah hujan. Bukan hujan di luar jendela saya, tapi hujan di dalam teks, yang entah bagaimana basah juga di dalam pikiran saya. Saya sedang duduk di kamar dengan lampu yang terlalu redup untuk jam segini, dan tiba-tiba saya tidak yakin lagi apakah saya pembaca atau yang dibaca. Tiga kartu terbentang di atas meja — bukan meja saya, meja seseorang yang tidak pernah saya temui — dan saya merasa sudah mengenal mereka: Eight of Swords, Knight of Cups, Nine of Cups. Seperti mengenal wajah-wajah di cermin yang sudah lama tidak saya bersihkan.
I. Eight of Swords — Kandang yang Kita Bangun Sendiri
Saya pernah punya percakapan yang tidak pernah selesai. Bukan karena kami bertengkar. Bukan karena ada yang memutuskan untuk pergi dengan keras. Tapi karena suatu hari, tanpa ada kesepakatan, kami berdua berhenti mencoba. Pesan-pesan menjadi lebih jarang. Panggilan telepon menjadi lebih canggung. Dan kemudian — tidak ada. Hanya keheningan yang bergema lebih keras dari kata-kata apa pun yang pernah kami ucapkan.
Saya pikir saya sudah selesai dengan itu. Saya pikir saya sudah membangun kandang yang cukup kuat dari kesibukan, dari Netflix, dari tidur yang terlalu larut dan bangun yang terlalu pagi. Tapi kemudian saya membaca kalimat ini: “Apa bedanya penjara dengan rumah, jika kita sendiri yang memasang kuncinya?” Dan saya menyadari bahwa kandang saya memiliki jendela yang saya sendiri yang tutup.
Eight of Swords adalah kartu yang mengganggu. Bukan karena ia menunjukkan wanita terikat — tapi karena ikatannya longgar. Bukan karena ia buta — tapi karena penutup matanya bisa dilepas. Saya menatap gambar itu terlalu lama, seperti menatap foto diri sendiri yang tidak pernah saya ambil. Wanita itu berdiri di tengah delapan pedang yang ditancapkan ke tanah, dan saya yang duduk di kamar dengan laptop di pangkuan menyadari: pedang-pedang itu tidak benar-benar mengurungnya. Ada celah. Ada jalan. Dia bisa saja melangkah keluar. Tapi dia tidak melakukannya.
Dan saya mengerti kenapa. Saya terlalu mengerti kenapa.
Ketakutan tidak selalu berteriak. Kadang ia berbisik dengan sangat lembut sehingga kita mengira itu suara kita sendiri. Ia berkata: Kamu tidak cukup baik. Kamu akan menyakiti dirimu lagi. Ingat terakhir kali kamu mencoba? Dan karena ketakutan itu terdengar seperti logika, seperti perlindungan, seperti kebijaksanaan — kita mendengarkannya. Saya mendengarkannya. Saya masih mendengarkannya sekarang, sambil menulis ini, sambil berpikir: apa yang akan terjadi jika saya mengakui bahwa saya tidak selesai? Jika saya mengakui bahwa saya masih menunggu pesan yang tidak akan pernah datang? Jika saya mengakui bahwa keheningan itu bukan akhir, hanya percakapan yang tertunda?
Para psikolog menyebut pola ini sebagai learned helplessness — kondisi di mana seseorang berhenti mencoba bukan karena tidak mampu, tapi karena telah terlanjur percaya bahwa usaha tidak akan mengubah apa-apa. American Psychological Association mencatat bahwa pola ini seringkali tidak terbentuk dari satu peristiwa besar, melainkan dari akumulasi keheningan kecil yang tidak pernah dijawab. Persis seperti yang coba ditangkap oleh nineshadowforces lewat kartu pertamanya.
II. Knight of Cups — Undangan yang Datang Tanpa Agenda
Enam bulan kemudian — atau mungkin enam menit, waktu menjadi tidak bisa dipercaya saat membaca nineshadowforces — seseorang datang. Sebut saja A. Bukan siapa-siapa. Bukan orang yang saya kenal dekat. Hanya kenalan yang tiba-tiba bertanya: Kamu baik-baik saja? Pertanyaan sederhana. Tapi saya ingat menatap layar terlalu lama sebelum menjawab. Karena tidak, saya tidak baik-baik saja. Tapi bagaimana Anda menjelaskan bahwa Anda tidak baik-baik saja tanpa harus membongkar seluruh arsip luka yang sudah Anda kubur rapi?
Knight of Cups datang dengan tenang. Tidak ada drama besar, tidak ada orkestra latar. Ia datang dengan kuda putih yang melangkah lambat, cangkir di tangannya hampir seperti pertanyaan. Ia menawarkan sesuatu, tapi tidak memaksa. Ia mengundang, tapi tidak menuntut jawaban sekarang juga. Dan itu yang membuatnya menakutkan. Karena kita hidup di era di mana kebaikan dianggap punya motif tersembunyi. Di mana vulnerability adalah konten yang bisa dimonetisasi. Di mana “ikuti kata hatimu” dijual oleh influencer yang tak pernah bilang bahwa hati juga bisa salah.
Saya tidak jatuh cinta pada A. Tidak dalam cara yang dramatis, tidak dalam cara yang bisa saya tulis jadi cerita indah. Tapi ada sesuatu yang mulai berubah: saya mulai membalas chat tanpa menunggu tiga hari. Saya mulai bilang iya lebih sering daripada membuat alasan. Saya mulai mempercayai bahwa mungkin — hanya mungkin — ada orang yang datang tanpa niat menyakiti.
Tapi ada rasa bersalah yang mengikuti: setiap kali saya tertawa bersama A, ada bayangan seseorang — sebut saja B, orang yang hilang tanpa penjelasan — yang muncul di pinggiran pikiran. Dan saya berpikir: Apa ini mengkhianati B? Pertanyaan absurd, karena B sudah tidak ada di sini. B sudah memilih untuk tidak ada di sini. Tapi hati tidak peduli logika. Hati hanya tahu bahwa ia pernah menyimpan seseorang terlalu lama, dan sekarang tidak tahu cara melepaskan tanpa merasa seperti membunuh bagian dari diri sendiri.
Suatu malam, saya bermimpi tentang B. Bukan mimpi yang jelas, hanya fragmen: percakapan yang tidak selesai, tawa yang terputus, kata-kata yang tidak pernah diucapkan. Dan ketika saya bangun, pipi saya basah — bukan karena menangis dalam mimpi, tapi karena tubuh saya menangis tanpa izin kesadaran saya. Saya duduk di tepi ranjang. Jam menunjukkan pukul 4:08 pagi. Dan saya menyadari: mungkin saya tidak kehilangan B. Mungkin saya kehilangan versi saya yang masih percaya bahwa cinta tidak akan pergi tanpa bilang.
III. Nine of Cups — Kepenuhan yang Menyimpan Kekosongan
Tiga bulan kemudian — atau mungkin tiga hari, waktu masih tidak bisa dipercaya — saya mendapatkan semua yang saya minta. Dan sekarang saya tidak yakin apa yang saya inginkan. Nine of Cups disebut wish card — kartu keinginan terpenuhi. Pria di kartu itu duduk dengan sembilan cangkir tersusun rapi di belakangnya, tangan terlipat, ekspresi puas. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja menang. Tapi tidak ada yang bertanya: Dan kemudian apa?
Saya duduk di teras yang sama — tempat pertama kali A bertanya kenapa saya selalu terlihat menunggu hal buruk. Sekarang hujan lagi. Gerimis kecil yang tidak tahu kapan akan berhenti. A ada di sebelah saya, membaca sesuatu di ponsel. Sesekali tertawa pelan. Kami tidak bicara banyak, tapi itu tidak masalah. Keheningan kami sudah tidak canggung. Dan tiba-tiba saya berpikir tentang B. Bukan dengan cara yang menyakitkan. Bukan dengan rindu yang menghancurkan. Hanya… ingat. Ingat bagaimana B memesan kopi — selalu double shot, selalu tanpa gula, selalu dengan sedikit komplain tentang barista yang terlalu ceria. Ingat bagaimana B tertawa — kepala sedikit menengadah, mata menyipit, suara yang lebih keras dari yang B sadari. Ingat bagaimana percakapan kami tidak pernah selesai — karena kami selalu punya sesuatu lagi untuk dibicarakan, sampai suatu hari kami tidak punya lagi.
Dan saya menyadari: saya tidak kehilangan B. Saya kehilangan narasi yang saya bangun tentang B.
Kita suka berpikir bahwa cinta adalah tentang orang. Tapi sering kali, cinta adalah tentang cerita yang kita ceritakan pada diri sendiri tentang orang itu. Dan ketika cerita itu runtuh, yang tersisa adalah: siapa mereka sebenarnya? Atau lebih tepatnya, siapa kita tanpa cerita itu? Saya tidak tahu siapa B sekarang. Mungkin B bahagia. Mungkin B juga bertanya-tanya tentang saya. Mungkin B tidak pernah berpikir tentang saya lagi. Dan semua kemungkinan itu harus saya terima, karena saya tidak punya hak atas cerita B lagi.
Ada kajian menarik dari Psychology Today tentang bagaimana otak manusia mengonstruksi narasi sebagai cara memahami hubungan — dan bagaimana kehilangan seseorang seringkali lebih terasa seperti kehilangan narasi diri ketimbang kehilangan individunya sendiri. Inilah yang tanpa sadar coba disentuh oleh nineshadowforces lewat kartu ketiganya: bahwa kepenuhan pun bisa menyimpan lubang, ketika kita belum selesai dengan cerita yang kita tinggalkan.
A menyenggol lengan saya. “Kamu melamun.” “Iya,” saya jawab. “Maaf.” “Enggak apa-apa,” A bilang. Lalu, setelah jeda: “Kamu masih memikirkan seseorang?” Saya terdiam. Bukan karena tidak tahu jawabannya. Tapi karena jawaban yang jujur terlalu kompleks untuk diucapkan di teras basah ini. Akhirnya saya bilang: “Iya. Tapi bukan dengan cara yang kamu pikir.” A mengangguk. Tidak menanyakan lebih lanjut. Dan saya bersyukur untuk itu.
Ada kalimat yang ingin saya tulis di sini. Tapi saya belum cukup jujur untuk menulisnya. Kalimat itu pendek. Tiga kata. Dan saya tahu, suatu hari, saya harus mengatakannya — entah pada B, entah pada diri sendiri, entah pada udara — agar saya bisa benar-benar melepaskan. Tapi hari ini bukan hari itu.
Gema yang Belum Reda
Saya kembali ke teks nineshadowforces pada jam 2:17 pagi berikutnya. Bukan karena saya belum selesai — saya sudah selesai, technically. Tapi karena ada sesuatu yang belum selesai dengan saya. Tiga kartu masih terbentang di meja — bukan meja saya, meja seseorang yang tidak pernah saya temui — dan hujan masih turun pelan di luar jendela yang sedikit terbuka. Saya menatap kartu-kartu itu: Eight of Swords, Knight of Cups, Nine of Cups. Dan saya berpikir: mungkin tarot tidak membaca masa depan. Mungkin ia hanya memegang cermin — cermin yang menunjukkan apa yang sudah kita tahu, tapi belum siap untuk mengakui.
Ada cangkir kopi di sebelah kiri saya. Masih mengepul. Saya tidak ingat kapan saya membuatnya. Saya menarik napas. Bau hujan masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Dan saya menyadari: saya tidak tahu apakah ini pertanyaan atau jawaban. Tapi saya tahu — dan ini yang menakutkan — bahwa besok saya akan membuka teks ini lagi. Dan saya akan berharap kombinasinya berbeda. Atau mungkin tidak. Mungkin saya hanya ingin konfirmasi bahwa percakapan yang belum selesai itu suatu hari akan menemukan akhirnya. Atau mungkin saya sudah belajar: beberapa percakapan memang tidak dirancang untuk selesai. Mereka dirancang untuk bergema. Dan di dalam gema itu, kita belajar hidup.
Saya tidak bisa memberikan nilai pada teks ini. Bukan karena tidak layak dinilai — tapi karena nilai akan mereduksinya menjadi angka, dan angka tidak bisa menangkap apa yang terjadi saat Anda membaca nineshadowforces pada jam 2:17 pagi, saat Anda menyadari bahwa kandang Anda memiliki jendela yang Anda sendiri yang tutup, saat Anda merasa terbaca oleh seseorang yang tidak pernah Anda temui. Yang bisa saya katakan adalah ini: saya telah menghabiskan dua jam — dua jam penuh — di dalam pola yang sama: membaca, berhenti, menatap dinding, membaca lagi, mengingat sesuatu yang saya kira sudah saya kubur rapi, berhenti lagi, menulis ini. Bukan karena tidak ada pilihan. Bukan karena teks memaksa. Tapi karena lebih mudah untuk percaya bahwa saya sudah selesai daripada mengakui bahwa saya masih di tengah.
Eight of Swords mengajarkan saya bahwa pedang-pedang itu tidak benar-benar mengurung. Knight of Cups mengajarkan saya bahwa kebaikan bisa datang tanpa agenda. Nine of Cups mengajarkan saya bahwa kepenuhan bisa kosong, dan itu bukan kegagalan — itu hanya kenyataan. Tapi yang paling penting, nineshadowforces mengajarkan saya bahwa beberapa percakapan — antara pembaca dan penulis, antara masa lalu dan sekarang, antara yang kita kira kita tahu dan yang sebenarnya kita rasakan — memang tidak dirancang untuk selesai. Mereka dirancang untuk bergema. Dan di dalam gema itu, kita belajar hidup.
Saya masih di kamar dengan lampu yang terlalu redup untuk jam segini. Hujan masih turun — bukan hujan yang membersihkan, bukan hujan yang menutup cerita. Hanya hujan yang mengingatkan bahwa beberapa hal tidak pernah selesai, hanya tertunda. Saya tidak tahu apakah saya akan membaca teks ini lagi besok. Saya tidak tahu apakah saya akan menemukan kombinasi kartu yang berbeda. Saya tidak tahu apakah saya sudah cukup jujur untuk menulis kalimat pendek itu — tiga kata yang masih menggantung di ujung lidah saya.
Tapi saya tahu satu hal: saya di sini. Dengan cangkir kopi yang sudah dingin. Dengan jendela yang sedikit terbuka. Dengan gema yang belum reda.
Dan mungkin — hanya mungkin — itu cukup.
Catatan penulis review: Tulisan ini dibaca pada jam 2:17 pagi, di kamar dengan lampu yang terlalu redup, sambil hujan turun pelan di luar jendela. Saya tidak yakin apakah saya menulis tentang nineshadowforces, atau nineshadowforces menulis tentang saya. Mungkin keduanya. Mungkin tidak ada bedanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar